2019 02 02 kuliah Umum 4Jakarta.kemenkumham.go.id - Sehubungan surat edaran dari Kantor Wilayah Kemenkumham DKI Jakarta dengan Nomor: W.10.UM.01.01-266 perihal: Pemberitahuan Kuliah Umum, Tanggal 25 Maret 2019, maka Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas IIA Jakarta melaksanakan kegiatan Kuliah Umum Wawasan Kebangsaan oleh Menteri Hukum dan HAM RI kepada seluruh Pejabat, Pegawai dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Hukum dan HAM seluruh Indonesia dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Hukum dan HAM Melalui Telconference dengan media Aplikasi Zoom.

Kegiatan kuliah umum melalui media aplikasi zoom pada Lapas Narkotika Klas IIA Jakarta dilaksanakan di Aula Lantai III Gedung Utama Lapas Narkotika Klas IIA Jakarta yang diikuti oleh Pejabat Struktural, Pegawai Jabatan Fungsional Umum dan Tertentu Lapas Narkotika Klas IIA Jakarta, dimulai dari pukul 08.00 s.d 10.30 wib.

Melalui media aplikasi zoom seluruh peserta Lapas Narkotika Klas IIA Jakarta menyaksikan rangkaian acara yang dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, diikuti serentak oleh Peserta  se-Indonesia dan dilanjutkan dengan pertunjukan tarian tradisional dari daerah Minangkabau Propinsi Sumatera Barat.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan Mardjoeki selaku Kepala BPSDM Hukum dan HAM menyampaikan “Kegiatan ini kami selenggarakan dalam rangka penguatan dan penanaman nilai-nilai kebangsaan kepada seluruh pegawai, peserta pelatihan dan Taruna taruni POLTEKIP dan POLTEKIM di Lingkungan BPSDM Hukum dan HAM, dilaksanakan secara nasional melalui teleconference oleh 11 unit utama, 33 Kantor Wilayah dan 921 Unit Pelaksana Teknis.” Mardjoeki melanjutkan “Tujuan Kegiatan “Menumbuhkan dan meningkatkan faktor-faktor positif dari perbedaan etnik, maupun agama dengan tujuan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa dan berusaha untuk terhindar dari disintegrasi bangsa.” Mardjoeki menambahkan “Selain itu kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kembali nilai-nilai moralitas, Pancasila yang diaplikasikan dengan perkembangan zaman serta meningkatkan upaya-upaya konkrit dalam memelihara dan mengembangkan factor-faktor yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.”



Yasonna H. Laoly dalam materi Kuliah Umum yang disampaikan antara lain :

  1. “Pentingnya Peran Pemuda dalam perjuangan kemerdekaan terutama mempertahankan dan meningkatkan kemajuan Bangsa dan Negara.”
  2. “Dasar dan Tonggak Kebangsaan Indonesia terdiri dari Persatuan Indonesia (Nasionalisme), Menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa dan Menjadikan UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara yang dihasilkan dari sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).”
  3. “Indonesia sebagai bangsa yang Plural yang artinya Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, agama, suku, adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke, secara geografis terdiri dari 17.504 pulau.”
  4. “Negara Indonesia memiliki tantangan internal salah satunya melemahnya rasa persatuan dan kesatuan (nasionalisme), patriotisme dan jati diri bangsa, serta kepribadian nasional yang bersumber dari nilai-nilai dasar pancasila dikalangan generasi muda, masyarakat dan aparatur penyelenggara pemerintahan/Negara.”
  5. “Kemudian tantangan eksternal yang sekarang ini kita hadapi salah satunya masuknya paham radikalisme dan fundamentalisme yang menggunakan atribut agama dalam kehidupan masyarakat serta pengaruh paham neo-liberalisme, kapitalisme dan bentuk-bentuk imperialism ekonomi baru dari Negara-negara asing yang memiliki kepentingan ekonomi ingin mengeksploitasi dan mengurasnya kekayaan sumber daya alam Indonesia, dll.”
  6. “Negara Indonesia dibangun dengan titik darah penghabisan, harta benda dan perjuangan besar dari para pahlawan yang berjasa untuk itu marilah kita tingkatkan kembali persatuan dan kesatuan demi keutuhan bangsa Indonesia,”
  7. “Hentikan berita yang bisa menimbulkan fitnah, stop hoax, jangan ada lagi informasi yang tidak benar menjadi viral karena ini bisa menjadi sumber perpecahan diantara kita semua.”

Kontributor : Nurmala Dewi & Budi Leksono  (Tim Humas Lapsusutik)